2

Medical Malpractice Insurance: The Complete Guide

APARI, Jakarta – Merupakan kegiatan IHT  Pertama di tahun 2019 yang diselenggarakan oleh APARI dan didukung sepenuhnya oleh PT. Asuransi Asei Indonesia.  Bertempat di Gedung Menara Kadin Indonesia Lantai 22 yang merupakan Kantor Pusat dari Asuransi Asei.  Acara yang dimulai dengan sambutan dari Bapak Erick Mangunsong, Direktur Teknik dan Pemasaran Asei dan Bapak Bambang Suseno, Ketua Umum APARI periode 2016 – 2020, dihadiri sekitar 100 orang Anggota APARI, Asuransi dan Loss Adjuster.

Sesi pertama IHT ini di isi oleh Bapak Wahyudin, SE, AAIK, FIIS, QIP (Kepala Unit Syariah, PT. Asuransi Asei Indoensia).  Beliau memaparkan bahwa sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 755/MENKES/PER/IV/2011 tentang Penyelenggaraan Komite Medik di Rumah Sakit antara lain menyebutkan bahwa “Dokter Memiliki Asuransi Proteksi Profesi (Professional Indemnity Insurance).  Juga disebutkan bahwa UU Nomor 44/2009 Pasal 46, “….Rumah Sakit bertanggung jawab secara hukum terhadap semua kerugian yang ditimbulkan atas kelalaian yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di Rumah Sakit”.

Medical Malpractice Insurance memberikan perlindungan Dokter terhadap tuntutan hukum yang diajukan oleh pasien atau keluarganya sehubungan dengan cedera badan, cedera mental, sakit, penyakit atau kematian pasien yang disebabkan oleh kelalaian atau kesalahan Dokter dalam menjalankan aktifitas bisnisnya (malpraktek).  Ganti rugi yang diberikan berupa kompensasi kepada pasien atau keluarganya termasuk didalamnya biaya pembelaan (defence cost) dengan nilai penggantian maksimum sebesar nilai pertanggungan yang disebutkan dalam Ikhtisar Pertanggungan.

Beberapa faktor Underwriting untuk penutupan polis MMI ini antara lain :

  1. Tertanggung terdaftar pada Perkumpulan/Perhimpunan/Ikatan Kesehatan,
  2. Kategori Dokter/Tenaga Kesehatan
  3. Usia
  4. Tempat Praktek/RS
  5. Pengalaman Klaim
  6. Limit Liability (termasuk Deductible)
  7. Judisriksi

Sesi kedua IHT ini dilanjutkan dengan pemaparan Ibu Zubaedah Jufri, Manager SIPLaw Firm, rekanan dari PT. Asuransi Asei Indonesia dalam hal penanganan klaim MMI.  Beliau menyampaikan sengketa medis tersebut biasanya muncul dari beberapa hal seperti; komunikasi dokter/rumah sakit, catatan medis, penanganan medis, pelayanan medis, dll.

Gugatan yang biasanya timbul dari perkara MMI adalah Pidana atau Perdata.  Pada perkara Pidana, tidak dapat dilakukan usaha Mediasi, sedangkan pada perkara Perdata, Mediasi dapat dilakukan antara Pihak Penuntut dan Pihak Yang Dituntut.  Jika usaha ini berhasil, maka diakhiri dengan perdamaian, namun jika gagal barulah hal ini diteruskan ke Pengadilan untuk kemudian disidangkan.

Para Anggota sangat antusias dengan Materi IHT hari ini, hal ini ditandai dengan banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang muncul baik selama sesi pertama maupun sesi kedua, karena memang Medical Malpractice Insurance adalah slah satu Polis yang berpotensi untuk dijual pada masa-masa mendatang seiring dengan semakin “melek”nya masyarakat terhadap hukum dan tuntutan-tuntutan hukum atas kelalaian profesional.

Semoga IHT hari ini memberi manfaat untuk para Anggota dan sampai berjumpa pada Inhouse Training mendatang dengan topik berbeda dan menarik lagi.

Materi IHT dapat diunduh disini: Presentasi_Penanganan Masalah Medikolegal, Produk Medical Malpractice InsuranceUnderwriting & Policy Wording Malpratek Insurance

JF/SIK/130319

Natural Catastrophe Seminar

Natural Catastrophe Seminar

APARI, Jakarta – Mengawali tahun 2019 ini, APARI bersama dengan ANZIIF pada hari ini Senin, tanggal 21 Januari 2019, menyelenggarakan kegiatan Seminar & Networking “Natural Catastrophe Seminar” bagi Anggota APARI, Pelaku Bisnis Asuransi dan Pialang Asuransi serta Masyarakat Umum yang bertempat di Grand Ball Room, Grand Hyatt Hotel, Jakarta.

Pembicara tunggal pada Seminar kali ini adalah Mr.  Karl Amstrong, ANZIIF Fellow.  Beliau adalah Praktisi Asuransi yang sudah berpengalaman selama 47 tahun dengan capaian tertinggi “ANZIIF Lifetime Achievement Award 2017” dan merupakan Former Chief Risk Officer of IAG New Zealand.

Seminar bencana alam yang disponsori oleh PT. Asuransi Jasaraharja Putra, PT. Asuransi Asei dan PT. Asuransi Astra ini diikuti sekitar 250 orang peserta yang berasal dari berbagai perusahaan.

Bapak Bambang Suseno, ST, CIIB, ANZIIF (Snr. Assoc.) selaku Ketua Umum APARI periode 2016 – 2020, dalam kata sambutannya, menyatakan bahwa seminar dilaksanakan salah satunya disebabkan adanya 3 (tiga) peristiwa bencana alam yang cukup besar yang terjadi di Indonesia sejak Agustus 2018 sampai Januari 2019, peristiwa-peristiwa tersebut adalah, Gempa bumi di Nusa Tenggara Barat, Tsunami dan Likuifaksi di Sulawesi Tengah dan Tsunami di Selat Sunda, Banten.

Seminar ini di moderatori oleh Bapak Arief Wiadi, CIIB, ANZIIF (Snr. Assoc.) CIP, AIIS, Anggota Badan Sertifikasi dan Akreditasi Kualifikasi Profesi (BSAKP).  Dalam salah satu paparan presentasinya, Mr. Karl Amstrog menceritakan mengenai besarnya dampak kejadian gempa bumi dan likuifaksi yang terjadi di Kaikoura, NZ pada 14 November 2016 lalu.   Beliau melanjutkan bahwa 15 bulan setelah kejadian 98% dari klaim yang terjadi dapat diselesaikan.

Karl Amstrong juga menjelaskan definisi dari “catastrophe” atau “natural hazard” dari sisi Underwriting, bagaimana menilai dan mempertimbangkan faktor-faktor risiko dan penerimaaan risiko tersebut dari berbagai hazard, seperti kemungkinan erupsi vulkanik, gempa bumi, banjir, tsunami dan lain-lain.

Seminar ini ditutup dengan sesi “question and answer” dengan menampilkan juga Panelis Berpengalaman, Bapak Heddy Pritasa dari PT. Reasuransi MAIPARK Indonesia.  Peserta sangat antusias untuk mendalami dan bertanya mengenai topik ini, tercatat 3 pertanyaan langsung dan 3 pertanyaan lain melalui online datang dari peserta.

JF/SIK/210119

Wisuda Akbar (APAI XXIII2018, APAI II SBY2018, CIIB XII2018 dan CIIB PKSGP XIII2018)

Wisuda Akbar (APAI XXIII/2018, APAI II SBY/2018, CIIB XII/2018 dan CIIB PKSGP XIII/2018)

APARI, Jakarta – Kegiatan kedua APARI diawal tahun 2019 ini adalah “Wisuda Akbar 2019”.  Mengapa disebut demikian?, karena pada hari ini, Senin 21 Januari 2019  ada 167 orang Wisudawan/wati yang akan dikukuhkan.  Kegiatan ini mengambil tempat di Grand Ball Room, Grand Hyatt Jakarta.   Seluruh Wisudawan / wati tersebut adalah : APARI Ang. XXIII (55 orang), APARI Ang. II SBY (22 orang), CIIB Ang. XII (53 orang) dan CIIB PKSGP atau Ang. XIII (37 orang).

Dengan bergabungnya 167 orang Anggota APARI baru ini, maka sampai sekarang sudah terdaftar 843 orang Tenaga Ahli Pialang Asuransi & Reasuransi Indonesia untuk kemudian menuju target 1,000 orang Tenaga Ahli pada tahun 2020 mendatang.

Bapak Bambang Suseno, Ketua Umum APARI periode 2016 – 2020 antara lain menyampaikan bahwa APARI akan tetap menyesuaikan program-program dan metode-metode pendidikan yang sesuai dengan perkembangan teknologi yang berkembang sangat cepat, termasuk juga memacu munculnya Pialang-Pialang baru dari berbagai Propinsi di Indonesia. Beliau juga mengingatkan agar Para Anggota APARI untuk tetap menjaga integritas dan kwalitas untuk menjadi Pialang yang Profesional.

Ibu Tattys Miranti Hedyana dari Otoritas Jasa Keuangan, dalam sambutannya memberikan apresiasi kepada Pengurus APARI atas terselenggaranya program sertifikasi APAI dan CIIB.   Selain mengucapkan selamat, kepada para Wisudawan/wati beliau juga berpesan agar dapat menunjukkan kerja profesional dan menjunjung tinggi etika, dan standard profesi.

Bapak Gatot Kardioko, Ketua BSAKP dalam sambutannya antara lain menyampaikan fungsi dan tugas BSAKP dan kembali mengingatkan agar Para Anggota tetap menjaga integritas dan profesionalitas.

Acara Wisuda sendiri ditandai dengan Pengalungan Medali Keahlian dan Pembagian Sertifikat bagi seluruh Wisudawan/wati, serta di akhiri dengan Pembacaan Catur Prasetiya, yang dipimpin oleh Bapak Donny Hermawan, sebagai Lulusan Terbaik Program CIIB PKSGP.

Selamat berkarya, dan menjadi Pialang yang Berintegritas dan Profesional.

JF/SIK/210119